Eksotika Percikan Alam Air Terjun Madakaripura Dari Probolinggo, Jawa Timur

Sobat Traveler Stories by Switantra Wibawa Mukti

Hallo. Nama ku Tantra, di sini aku akan sharing soal pengalaman seru, ya, serunya jalan-jalan bareng teman-teman ke air terjun Madakaripura, di Probolinggo. Eheemm.. penasaran kaan? Oke. So, let’s check it out! Malang, 13 September 2014 Sabtu! Hari yang cerah dengan sinar matahari pagi yang menyapaku dengan hangat dari segarnya Kota Malang yang katanya disebut sebagai Kota wisata, Kota Apel, dan Kota pendidikan. Sebenarnya aku lebih cocok menyebut Kota Malang sebagai Kota “Keberuntungan” karena ya memang, Kota Malang ini sudah kesekian kalinya membuatku nyaman, aman, damai dan tempat dimana aku memulai survive sekaligus menuntut ilmu di sini.

Kota Malang sudah membuatku menjadi pribadi yang kuat, terbuka dan ramah daripada sebelumnya, heii.. it’s true!. Memang kebanyakan, orang-orang yang sudah pernah merantau, pasti mengalami perubahan pada dirinya, baik fisik maupun mental sesuai dengan di kota mana dia hidup, dan berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar agar diterima oleh masyarakat lokal. Kota Malang sudah sering menggoda ku dengan panorama-panorama alamnya yang indah, sehingga aku terus terpana dan menggodanya lagi dengan melakukan perjalanan mengunjungi tempat-tempat wisatanya yang memang begitu banyak.. sehingga aku tidak pernah berhenti untuk terus melakukan perjalanan-perjalanan yang terus membawa ku ke pengalaman yang begitu seru, menakjubkan dan tidak terlupakan. Hmm, oke, sepertinya gak perlu mengulas panjang lebar soal Kota Malang ya, karena kalo dibahas terus bisa-bisa ga selesai-selesai sampai sarjana. 

Mending di sini aku pengen ngebahas soal perjalanan ku tentang plesiran ke air terjun Madakaripura di Probolinggo yang berangkat dari Kota malang sini, tentunya aku tidak sendirian untuk ke sana, karena rencana plesiran ke air terjun ini pun bukan dari aku sendiri, melainkan dari teman-teman kuliah ku, yakni Nur Rislah, atau biasa aku dan teman-teman yang lain menyebut dia dengan Rislah. Teman ku, Rislah memang perempuan yang tidak terlalu mencolok di kelas, agak pendiam, namun teman ku ini memang menyimpan semangat-semangat tersendiri di dalam kehidupannya, terutama ya jalan-jalannya itu, haha.. 

Bagaimana tidak, Rislah ini memang aku akui dia sudah melanglangbuana hampir ke semua tempat, walaupun dengan wara-wiri hanya sampai di Pulau Jawa, tetapi tetap saja, dengan melihat hal seperti itu, aku pun sudah takjub sekaligus bangga, karena hobi kita pun memang sama, jodoh nih hahaa. Dengan tidak lupa mengajak pasukan sekelas yang lain juga, seperti Imam beserta pacarnya yang bernama Resty, Rindah, Firly, Yovie, dan tak lupa mengajak adiknya Rislah kita ber-8 orang bersama-sama sepakat untuk plesiran ke air terjun Madakaripura, walaupun kita sebelumnya belum pernah ke sana dan baru mengetahui air terjun Madakaripura ini, dan itu pun baru diketahui dari teman ku Rislah. Menurut sumber yang aku ketahui dari Internet, ternayat air terjun Madakaripura ini merupakan air terjun tertinggi ke dua di pulau Jawa!! Woww.. aku pun tidak bisa membayangkan, melihat air terjun yang biasa aku lihat saja sudah begitu tinggi, apalagi melihat air terjun Madakaripura ini nantinya??! Dan lokasinya pun dekat bersebelahan dengan wisata Gunung Bromo. Rasa penasaran yang tinggi pun begitu kuat begitupun teman-teman yang lainnya. Namun, kami semua berharap plesiran ke air terjun Madakaripura ini dapat berjalan lancar. Masalahnya, untuk menuju ke lokasi wisata air terjun ini membutuhkan waktu perjalanan yang ditempuh lumayan lama, yakni sekitar kurang lebih 3 jam dengan menggunakan kendaraan pribadi. 

Kendaraan pribadi di sini, kita lebih menggunakan sepeda motor, ya maklum laah, namanya juga mahasiswa pengennya yang instant, irit dan murah yang penting selamat sampai tujuan hehehee. Apa jadinya perjalanan kami ke air terjun Madakaripura dengan speda motor?? Jangan ditanya, karena aku pun tidak berani memakai kendaraan motor ku sendiri, karena motor ku Honda Supra Fit dengan kecepatan 100 cc. Mengingat kalo perjalanan untuk mencapai ke sana begitu jauh, medan jalan yang tidak menentu seperti naik-turun, miring kanan-miring kiri dan lain sebagainya, maka aku pertimbangkan untuk lebih baik nebeng ke motor teman. Karena aku ragu dan ga pede dengan motor ku, lebih baik nebeng aja ke teman yang memang memiliki motor dengan keadaan yang baik dan aman untuk dibawa jalan-jalan jauh. 

Walaupun aman bisa nebeng bareng teman, tapi tak lupa untuk berbagi kesusahan, seperti urunan uang bensin dan makan. Memang tradisi kami, dari dulu kalau soal jalan-jalan pasti ga lupa yang namanya soal urunan dana demi menyukseskan plesiran kemana pun dan dimana pun, entah itu urunan dari uang bensin, uang transportasi, tiket masuk sampai makan-makan harus sudah kami perhitungkan dari awal, begitupun kali ini ke air terjun Madakaripura. Pukul 09.00 WIB, dari Jalan Gajayana, Kota Malang, kami 8 orang sudah siap senjata dan berangkat ke medan perang.. wiihh, kesannya mau perang ya, padahal mau perjalanan jauh ni ceritanya. Kami pun berjalan dengan kecepatan yang masih di bawah 60 Km/jam, karena kami masih melintasi jalan-jalan kota, dengan banyaknya orang berlalu lalang dan macet karena hari minggu memang pantas untuk hari-hari liburan semua orang. 

Kami pun terus melaju, hingga lepas daerah Lawang, Karanglo, Singosari sampai bertemu dengan pertigaan lampu merah pasar Singosari, ada dua jalur di hadapan kami, ke kiri arah ke Surabaya, dan lurus ke arah Probolinggo. Lalu tanpa panjang pikir, kami pun langsung menuju lurus, ke arah Probolinggo. Setelah itu kami pun terus melaju kencang dan kecepatan sudah di atas 60 Km/jam, itu tandanya perjalanan yang sebenarnya sudah dimulai, seperti prajurit yang mulai sengit ketika medan pertempuran sudah ada didepan matanya. Lambat laun kecepatan sudah 80-100 Km/jam, kedaan jalan pun mulus dan lancar, karena memang jalanan saat itu masih lurus dan tidak berkelok-kelok. Jalan ngebut-ngebut bukannya kami sok jagoan, memang hal ini dilakukan karena memang keadaan jalan yang lenggang dan agar cepat sampai tujuan. 

Di tengah-tengah hari yang begitu panas dan kering, perjalanan ini pada akhirnya lambat-laun membuat kami lelah, lapar dan bosan, pada akhirnya ketika kami sudah hampir memasuki wilayah Kabupaten Probolinggo di pinggir kanan jalan ada sebuah Rest Area yang didalamnya sudah terdapat pompa bensin, toilet, gazebo, resto dan cafe.. tak luput juga di sana ada beberapa pedagang kaki lima. Aku lupa, di daerah mana kami berada sekarang, namun yang jelas kata teman ku Rindah, kami sudah hampir berdekatan dengan air terjun Madakaripura yang dimaksud. Aku pun turut ada rasa lega juga, pada akhirnya kami tak lama lagi akan sampai masuk wilayah Kabupaten Probolinggo dan itu tandanya lokasi air terjun Madakaripura pun semakin mendekat walaupun memang masih ada beberapa waktu tempuh lagi yang ingin dicapai. Kami pun beristirahat sejenak di Rest Area ini, entah itu buang air, meluruskan badan, jajan-jajan dan ngobrol-ngobrol. 

Setelah waktu istirahat selesai, maka kami pun melanjutkan perjalanan lagi. Kami kembali mengendarai dan terus berjalan, dan untungnya kondisi jalanan masih lumayan bagus. Karena saking menikmati perjalanan, kami pun sampai kebablasan jalan, karena kami melewati petunjuk arah lokasi air terjun d sebelah kanan, kebetulan juga memang petunjuk arah ini memberikan kita arahan untuk berbelok ke kanan. Setelah kami berbelok kanan, kami pun berjalan lurus terus, kondisi jalanan ini juga aga mengkhawatirkan, karena kami menyusuri jalanan desa, naik-turun, berkelok-kelok, sebagian ada yang rusak jalanannya, ya mau bagaimana lagi memang ini jalan utama menuju ke lokasi, dan untungnya kami masih merasa tetap senang dan bersemangat. Setelah 3 jam lebih berlalu, akhirnya sampai juga di lokasi wisata air terjun Madakaripura. Sekilas ku lihat tempat ini masih alami, sejuk dan terjaga oleh penduduk masyarakat setempat. Pukul 12.30 WIB, Kami pun sampai segera memarkir motor dan tidak lama selfie-groufie terlaksana juga, Memang di mana pun dan kapan pun harus, kudu, wajib selalu berfoto-foto ria sebelum bahkan setelah berwisata. 

Di depan pintu masuk wisata air terjun Madakaripura, terdapat patung patih Gadjah Mada yang tegap dan berkarisma. Kami pun tidak bertanya-tanya soal patung patih Gadjah Mada ini, tetapi aku penasaran, kenapa ada patung patih Gadjah Mada di sini? Dan setelah aku telusuri dengan internet d handphone, ternyata air terjun Madakaripura ini merupakan tempat persembunyian terakhir patih Gadjah Mada di saat beliau sedang di kejar oleh bala tentara pasukan Majapahit, dan konon katanya beliau bersembunyi di bawah air terjun Madakaripura. Mengenai hal ini, memang masyarakat masih mempercayai sampai sekarang bahwa sang patih bersembunyi di sana, sejauh mereka mengetahui atau tidak. Namanya juga cerita rakyat, mungkin bagiku ini adalah sisi historis yang bernilai bagi masyarakat kita. 

Setelah membayar tiket dan melewati patung patih Gadjah Mada, kami berjalan masuk dan kondisi jalur untuk ke air terjun madakaripura ku rasa cukup menyenangkan, dengan beralas semen dan batu-batuan jalanan ini terasa cukup aman untuk dilewati para wisatawan, dan ternyata jarak untuk menempuh ke lokasi air terjun masih di rasa jauh sekitar kurang lebih satu jam setengah. Akses jalanan tidak sampai jalanan lurus saja, tetapi ada yang harus sampai memanjat dan menurun karena di saat itu keadaan jalanan sedang di renovasi oleh warga, but it’s oke laah, lalu menurun melewati derasnya sungai yang dingin dan cukup susah untuk dilewati, namun kami tetap semangat. Bagaimana tidak semangat, di sela-sela perjalanan kami kadang berbicara dan bercanda, karena dengan cara itu pasti rasa lelah tidak akan begitu terasa. 

Setelah berjuang lama melewati akses jalanan yang begitu licin, basah, curam dan sedikit berlumpur akhirnya kami mendekati lokasi air terjun Madakaripura. Aku lihat air terjun ini memiliki tanaman rambat dan lumut yang berjuntai ke bawah, dengan rintikan air berjatuhan seperti hujan, ternyata ini bukanlah air terjun yang dimaksud, melainkan aku menyebutnya dengan air terjun “selamat datang”. Ya karena memang air terjun ini berlokasi di depan air terjun Madakaripura dan ku rasa cukup tinggi juga. 

Kami melewati air terjun ini dengan keadaan basah-basahan, untungnya saja aku menggunakan jaket anti-air dan yang lain teman ku memaikai jass hujan. Memang sangat seru ketika kita berjalan melewati air terjun sekaligus mengarungi sungai, lengkaplah sudah basah-basahan dari kepala sampai kaki, namun kali ini sangat seru, menyenangkan dan bisa menggantikan main mandi hujan yang biasa waktu kecil di tengah pemukiman rumah hahahaa. Setelah kami melewati derasnya tumpahan air terjun “selamat datang” dan mengarungi sungai, kami pun berhenti sejenak dan berfoto-foto ria ke sana kemari, dan setelah itu kami pun tetap masih berjuang, karena aksesnya menanjak karang besar. Hhmm, awalnya malas sekali tapi sepertinya mau tidak mau kami harus menghadapinya karena setelah menanjak karang besar ini di sana sudah ada air terjun Madakaripura. 

Kami menanjak setapak demi setapak secara pelan-pelan, karena keadaan karangnya begitu licin, basah dan berlumut. Kesabaran membuat kami kuat dalam hal ini, sesampainya di atas, finally, huwallaaahhh... kami sudah sampai di air terjun Madakaripura!!! Sesampai di sini, kami hanya bisa diam, takjub, senang, sedih semua rasa tercampur aduk hingga sulit diungkapkan, memang aku akui, aku hanya terdiam melihat begitu besarnya air terjun ini, membentuk seperti tabung raksasa, dan kami semua di bawah sini bagaikan “semut” yang hanya tidak bisa berbuat apa-apa di dalam “tabung raksasa” Madakaripura.

Kami semua senang bukan kepalang dan tak lupa sambil berucap syukur kepada sang pencipta, kemudian kami berteriak-teriak ga jelas karena memang satu-satunya yang bisa keluar untuk diungkapkan adalah dengan cara teriak-teriak. Memang sih terdengar aneh dan gila, tapi ya mau gimana lagi, udah gila begini, gila aja sekalian hahaha. Bukannya teriak tanpa adanya alasan, nanti dikiranya gila beneran lagi, tapi emang ini bentuk pelampiasan kami selama di perjalanan, dan berjalan sampai susah payah, basah-basahan, sampai terseok-seok. 

Tidak sampai teriak-teriak, kami pun langsung mencari tempat aga sepi untuk menaruh barang-barang bawaan, dan setelah itu kami langsung menyeburkan diri ke danau air terjun, dan BYYUURRR!!..main air, berenang, menyelam dan mandi air terjun pokoknya full of splash deh!. Seketika itu, pikiran lelah, pusing, galau dan stress segera luntur begitu saja, semua luntur terbawa oleh jatuhnya air terjun Madakaripura, tapi waktu itu kami mandi di bawah kucuran anak air terjun Madakaripura, bukan di bawah air terjun utamanya. 

Lain halnya dengan air terjun utama Madakaripura yang tahu sendiri lah deras air terjunnya kaya apa, nyaring terdengar seperti “duuzzduuzzduzz”. Waktu semakin siang, kami semakin menikmati segarnya alam hijau di air terjun Madakaripura. Eksotika percikan alam nan hijau ini seolah-olah telah menyihir kami untuk menyatu dengan alam hingga kami lupa dengan beban-beban kehidupan kota yang ada. Ya, di sini kami tidak akan pernah menyesal, bayangkan saja, kapan lagi kami bisa ke sini lagi! Maka itu, kami dengan puas plesiran di air terjun Madakaripura, for the first time!. 

Sembari menikmati megahnya air terjun, tak lupa kami membuat video dokumentasi dan berfoto-foto ria untuk dijadikan sebagai kenang-kenangan kami. Cekrak-cekrek foto ke sana kemari sampai sukses dan saat itu waktu sudah semakin sore, walaupun sangat berat untuk meninggalkan air terjun Madakaripura, mau tidak mau kami harus berpisah. Karena apabila semakin sore kita pulang, maka perjalanan balik akan semakin malam juga, karena kita akan balik ke Kota Malang dan itupun masih sangat jauh untuk ditempuh. 

Kami pun bergegas ganti baju, dan kebetulan tak jauh dari situ, ada kamar mandi umum, lalu kami bergegas sekalian mandi juga. Setelah semua sudah bersih, cantik dan ganteng, kami pun melanjutkan perjalanan balik menuju pintu gerbang Gadjah Mada, seperti bisa kami harus menyusuri jalanan curam, air terjun “selamat datang”, jalan naik-turun dan melewati derasnya sungai. Perjalanan kami tempuh sekitar 1 jam lebih, tapi kali ini perjalanan balik serasa lebih enteng daripada berangkat tadi. Sambil berbicara, menyanyi dan tertawa-ria akhirnya tanpa kami sadari, kami tiba juga di gerbang Gadjah Mada, seperti biasa kami melakukan sesi foto-foto untuk terakhir kalinya sebelum pulang. Pada akhirnya kami menuju parkiran dan mengenakan pengaman seperti jaket, sepatu, helm, masker dan sarung tangan. Setelah semua siap, maka kami pun beragkat balik, menuju Kota Malang. 

Selama di perjalanan balik, aku hanya bisa mengenang dan memetik sebuah pengalaman perjalanan ini, yakni sejauh apapun itu, sesulit apapun itu dan seindah apapun itu perjalanannya, semua harus melalui proses jalan untuk menuju ke sana, sama halnya kita memahami proses kehidupan ini, pasti semua akan indah pada akhirnya. Setidaknya perjalan ini membuat kami berkesan dan tidak terlupakan, Malang-Probolinggo. 

Eksotika percikan alam air terjun Madakaripura dari Probolinggo ini lah yang dapat meninggalkan percikan sebuah perjalanan yang menuntun kami dalam memahami karya sang pencipta, perjalanan ini lah yang menjadi sumber inspiatif bagi kami agar tetap terus berjalan dan mencari tahu sesuatu hal yang belum dijelajahi, karena di dunia ini begitu banyak hal-hal indah yang harus diketahui dan pahami. 

Sekian sudah kisah perjalann plesiran ke air terjun Madakaripura ini, setidaknya kisah ku ini akan menjadi inspirasi bagi semua orang yang tak kenal lelah dan berani untuk melihat seluk-beluk dunia ini dengan jalan-jalan, wara-wiri atau liburan tanpa kenal usia dan waktu. Mohon maaf apabila ada kesalahan kata-kata yang tidak mengenakan, karena ini adalah kisah curahan hati asli dari penulis. See you next time dan salam jalan-jalan!.
Eksotika Percikan Alam Air Terjun Madakaripura Dari Probolinggo, Jawa Timur
Item Reviewed: Eksotika Percikan Alam Air Terjun Madakaripura Dari Probolinggo, Jawa Timur 9 out of 10 based on 10 ratings. 9 user reviews.
bagikan
Emoticon? nyengir

Gunakanlah Bahasa yang Relevan dan Sopan.. #SobatTraveler

Komentar Terbaru

Just load it!